Di negeri ini, mungkin saya memang harus mulai belajar terbiasa. Terbiasa melihat aktivis diserang, jurnalis diteror, dan suara kritis dibungkam dengan cara-cara yang semakin kreatif. Toh, semua akan berjalan seperti biasa, jadi berita sehari, ramai seminggu, lalu menghilang tanpa jejak seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

 

Pada tahun 2017, seorang penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan, disiram air keras oleh orang tak dikenal setelah menunaikan shalat subuh di sekitar kediamannya. Serangan itu menyebabkan kerusakan permanen pada penglihatannya. Kasus ini terjadi di tengah penanganan perkara besar yang melibatkan kepentingan politik dan institusional, memunculkan dugaan kuat bahwa serangan tersebut berkaitan dengan upaya membungkam kerja-kerja pemberantasan korupsi (BBC News Indonesia, 2020).

 

Dan sekarang, saya melihat bahwa pola ini serupa dengan kejadian 12 Maret 2026, Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, disiram air keras oleh dua orang tak dikenal saat melintas di kawasan Salemba, Jakarta, pada malam hari. Serangan itu terjadi tidak lama setelah ia terlibat dalam diskusi publik yang membahas isu sensitif terkait militer dan kebijakan negara (CNN Indonesia, 2026). Seharusnya ini menjadi alarm keras bagi siapa pun yang percaya bahwa kritik adalah bagian sah dari demokrasi. Namun, alih-alih menjadi peristiwa luar biasa, kejadian ini terasa familiar.

 

Ini bukan lagi soal satu kasus. Bukan pula soal satu korban. Kekerasan terhadap suara kritis di negeri ini perlahan berhenti menjadi anomali. Ia perlahan berubah menjadi pola. Dari teror terhadap jurnalis, intimidasi terhadap media, hingga serangan langsung terhadap aktivis, semuanya membentuk satu benang merah yang sulit untuk diabaikan. 

 

Tetapi anehnya, semakin sering terjadi, semakin kecil pula keterkejutan saya. Mungkin saya hanya perlu menunggu giliran berikutnya. Siapa lagi yang akan diperingatkan? Dengan cara apa lagi? Dan seberapa jauh batas yang akan dilampaui?

 

Yang paling berbahaya dari kekerasan bukan hanya luka yang ditinggalkan pada tubuh korban, tetapi kebiasaan yang ia bangun dalam benak publik. Saya memang melihat, memahami, lalu tanpa sadar mulai terbiasa. Bukan karena saya setuju dengan adanya kekerasan, tentu saja tidak, tetapi karena saya  mulai merasa lelah untuk terus terkejut.

 

Normalisasi tidak datang secara tiba-tiba, tetapi hadir secara perlahan melalui pengulangan. Ketika pelaku tidak benar-benar dihentikan, ketika kasus demi kasus tenggelam tanpa kejelasan, ketika perhatian publik cepat dialihkan, di situlah kekerasan menemukan ruangnya untuk menjadi biasa.

 

Ketika sesuatu yang seharusnya luar biasa menjadi biasa, di situlah masalah sebenarnya dimulai. Sebab dampaknya tidak berhenti pada satu individu. Ia menjalar, mengubah cara orang berpikir dan bertindak. Orang-orang mulai menimbang ulang kata-kata mereka. Mulai menyaring kritik mereka. Mulai bertanya dalam hati, “apakah ini aman untuk diucapkan?”

 

Pada akhirnya, diam bukan lagi sebagai pilihan kebebasan berpendapat, diam mulai berubah menjadi strategi bertahan. Lalu di mana posisi saya? Sebagai warga negara yang budiman, saya selama ini berusaha percaya bahwa negeri ini adalah ruang yang aman untuk berpikir dan bersuara. Apakah saya benar-benar bebas dalam berpendapat dan menyampaikan kritik? Atau hanya belum cukup terlihat untuk dianggap sebagai ancaman?

 

Jika besok saya belajar untuk tidak terkejut, lusa saya mungkin akan belajar untuk tidak peduli. Ketika itu terjadi dan semua orang mulai mengikuti apa yang saya lakukan, kekerasan tidak lagi perlu disembunyikan. Saya tidak ingin orang-orang merasakan apa yang saya rasakan sebelumnya, lelah untuk terkejut ketika ‘oknum’ kembali melakukan represi untuk membungkam kritik dan suara dari rakyat yang seharusnya mereka lindungi.

 

Setelah ini saya akan menggunakan kata ‘kita’ dalam penulisan. Karena masalahnya bukan lagi tentang saya. Tetapi tentang kita semua.

 

Masalahnya, kita tidak hanya menjadi saksi. Kita juga perlahan menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Setiap kali kita memilih diam, setiap kali kita membiarkan kejadian seperti ini berlalu tanpa tuntutan yang jelas, kita seolah memberi izin agar pola ini terus berulang. Kita mungkin tidak menyiram air keras. Tetapi kita ikut menciptakan ruang di mana hal seperti itu bisa terjadi lagi.

 

Karena itu, respons kita tidak bisa lagi berhenti pada rasa marah yang cepat padam. Tidak cukup hanya mengecam, tidak cukup hanya mengutuk. Kita butuh posisi yang jauh lebih tegas, tidak ada toleransi untuk kekerasan terhadap suara kritis. Tidak ada ruang untuk impunitas, dalam bentuk apa pun. Tidak ada lagi kesabaran untuk proses yang berlarut tanpa arah. Pertanggungjawaban tidak boleh berhenti di pelaku lapangan saja, tetapi harus menembus ke struktur yang memungkinkan kekerasan itu terjadi. Karena kalau akar masalahnya tidak disentuh, maka kita hanya sedang menunggu kasus berikutnya. 

 

Kita harus berani mengatakan bahwa institusi yang berulang kali gagal melindungi warganya tidak bisa terus dibiarkan berjalan tanpa evaluasi serius. Pengawasan sipil harus diperkuat. Transparansi harus dipaksa. Kekuasaan yang terlalu nyaman tanpa kontrol adalah masalah, bukan solusi. Namun, semua itu tidak akan berarti jika kita tetap memilih diam.

 

Solidaritas memainkan peran penting di sini. Individu mudah diserang. Tetapi jaringan jauh lebih sulit dibungkam. Ketika satu suara dibungkam, suara lain harus muncul. Ketika satu kasus tenggelam, yang lain harus mengangkatnya kembali ke permukaan. Tak hanya sekali, berkali-kali, ribuan kali, sampai tidak bisa lagi diabaikan.

 

Jika represi bekerja melalui pengulangan, maka satu-satunya cara melawannya adalah dengan konsistensi yang sama. Terus mengingat. Terus bersuara. Terus menolak untuk terbiasa. 

 

Kita harus berhenti menganggap diam sebagai sesuatu yang netral. Dalam situasi seperti ini, diam bukan lagi sekadar pilihan pribadi. Ia adalah sikap. Ia adalah bentuk penerimaan. Ia adalah cara paling halus untuk mengatakan bahwa semua ini masih bisa ditoleransi. 

 

Jika hari ini kita memilih untuk tidak terkejut, besok kita akan belajar untuk tidak peduli. Dan setelah itu, kita tidak lagi membutuhkan siapa pun untuk membungkam suara kritis. Karena kita sudah melakukannya sendiri.

 

Penulis: Newt Scamander

Desainer: Khoir Nurul Hisan