Sumber: gramedia.com

 

Identitas Novel 

Judul Buku: Ingatan Ikan-Ikan

Penulis: Sasti Gotama

Penerbit: Bentang Pustaka

Tahun Terbit: 2024

Cetakan: Pertama

ISBN: 978-623-186-399-7

Jenis Buku: Novel

Jumlah Halaman: 184 halaman

 

Pendahuluan

Novel Ingatan Ikan-Ikan merupakan novel karya Sasti Gotama yang terbit untuk pertama kalinya. Novel ini mengangkat trauma tragedi Mei 1998 serta dampak yang dirasakan para penyitas. Ingatan Ikan-Ikan menyentuh ruang psikologis dalam narasinya. Ditulis dengan sudut pandang orang ketiga, novel ini juga menggunakan alur maju-mundur. Melalui kisah para tokoh, novel ini menceritakan bagaimana ingatan masa lalu yang menyakitkan mampu memberikan dampak besar. 

 

Isi Resensi

‘Sesungguhnya ingatan adalah entitas yang brutal. Kadang menyaru sebagai fakta solid, kemudian menyeru sebagai satu-satunya kebenaran. Padahal ingatan bukanlah mineral yang mengkristal menjadi bebatuan, melainkan spons yang dengan rakus menyesap opini dan fakta baru. Sepatutnya setiap orang mempertanyakan ingatannya, apakah masih asli atau sekadar barang artifisial.’

 

Kutipan tersebut merupakan salah satu penggalan dari jurnal harian seorang tokoh dalam novel Ingatan Ikan-Ikan. Sebuah adegan traumatis akan terus mengendap dalam ingatan, tidak memandang telah berapa lama kejadian nahas tersebut sudah tertinggal di belakang. Lian Wen, seorang dokter hewan keturunan Tionghoa, menatap ikan mas koki dalam mangkuk kaca itu. Di luar dari profesi yang mengharuskan dirinya akrab dengan berbagai hewan, Lian memang akan lebih memilih berinteraksi dengan oranda buta itu daripada berinteraksi dengan manusia lain. Ia memiliki trauma, trauma yang membuatnya tidak bisa mendengar tawa maupun tertawa.

 

Di tempat lain, Ombak, pria pedagang ikan mas koki, hidup dengan seadanya untuk membiayai istri dan putrinya. Kemalangan hidupnya juga datang sebab ia membenci mimpi. Mimpi? Bukankah saat manusia terlelap setidaknya beberapa dari mereka akan mendapatkan mimpi? Betul, dan itu yang membuat Ombak tidak mampu tidur dalam keadaan bugar. Saat bangun dari mimpi buruk, Ombak harus menyusun kembali ingatannya mengenai waktu yang sedang ia pijak, bukan saat kejadian traumatis itu terjadi kembali dalam mimpinya.

 

Terdapat mitos yang berkata bahwa ikan mas koki hanya mampu mengingat selama tiga detik. Sebagai individu yang mengalami trauma, Lian rasanya ingin mengirim surel kepada Tuhan agar ia dikutuk saja menjadi ikan. Lian mencitrakan ingatan sebagai tawa manusia yang menjelma jarum-jarum menyakitkan. Sementara Ombak memvisualkan ingatan sebagai kaki-kaki sewarna arang dalam kantong hitam. Kesulitan antara bertahan hidup tanpa dihantui ingatan kelam menjadi kendala bagi keduanya untuk hidup secara lazim. Lalu Penatu Binata hadir, menawarkan jasa mencuci ingatan. Sebagai manusia yang menelan pedihnya trauma keduanya merasa tertarik. Namun, apakah kekuatan besar di balik canggihnya Penatu Binata dapat menyembuhkan luka mereka?

 

Kelebihan

Novel ini mengangkat peristiwa kelam dalam sejarah Indonesia, sehingga memberikan nilai tambahan berupa kedalaman dan kedekatan terhadap realitas yang ditampilkan pada narasi. Aspek psikologis tokoh ditampilkan dengan baik, memperlihatkan kesulitan dan perjuangan tokoh untuk melawan ingatan-ingatan jahat. Narasi dikemas dengan puitis, membangun suasana emosional yang mengajak pembaca untuk ikut merasakan pergulatan batin setiap tokoh.

 

Kekurangan 

Bagi sebagian pembaca, mungkin hal ini tidak menjadi bentuk kekurangan, namun beberapa bagian cerita disampaikan secara simbolis atau implisit sehingga membutuhkan pemahaman untuk mendalami sesuatu yang sedang diceritakan.

 

Kesimpulan

Secara keseluruhan, novel ini sangat menyentuh emosional pembaca. Tema yang diangkat menjadi salah satu alasan mengapa novel ini layak untuk mendapatkan rekomendasi. Bahasa, narasi, dan tokoh juga dituliskan dengan kuat, menambah nilai keistimewaan. Novel Ingatan Ikan-Ikan karya Sasti Gotama layak untuk dilirik dan dibaca, terutama bagi pembaca yang tertarik dengan tema serupa.

 

Penulis: Nebula

Desainer: Khoir Nurul Hisan