Di sebuah sudut Fakultas Teknik (FT) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), suara diskusi teknis, simulasi desain, dan pengujian komponen menjadi keseharian bagi tim Anobrain. Di balik layar pengembangan mobil listrik kampus, tim riset ini perlahan menapaki perjalanan panjang hingga berhasil menjalin kerja sama resmi dengan perusahaan perangkat lunak berskala internasional, yakni ANSYS dan SolidWorks.
Bagi sebagian mahasiswa, Anobrain identik dengan tim mobil listrik. Namun lebih dari itu, Anobrain menjadi ruang belajar lintas disiplin yang berfokus pada penelitian dan pengembangan teknologi kendaraan listrik. Perjalanan mereka tidak berlangsung instan. Dibutuhkan proses panjang, kompetisi, hingga pembuktian kapasitas sebelum akhirnya mendapat kepercayaan dari perusahaan teknologi global.
General Manager Anobrain Generasi ke-7, Muhamad Fajar Khairy, menjelaskan bahwa kerja sama tersebut berawal dari kebutuhan tim terhadap perangkat lunak desain dan simulasi yang memadai.
“Jadi dalam mendukung penelitian dan pengembangan tim Anobrain itu dibutuhkan software-software yang memang mempunyai kapabilitas untuk merancang juga mensimulasikan apa yang nantinya kami teliti,” jelasnya.
Menurut Fajar, software SolidWorks dan ANSYS memiliki peran penting dalam proses pengembangan kendaraan listrik. SolidWorks digunakan untuk perancangan desain komponen berbasis CAD (Computer Aided Design), sedangkan ANSYS dimanfaatkan untuk analisis teknik dan simulasi struktur melalui CAE (Computer Aided Engineering).
“Kita kan tim penelitian dan pengembangan, yang mana ketika kita membuat suatu komponen, itu kita analisis baik strukturnya maupun dari materialnya. Nah, nanti output nya itu akan kita jurnalkan, dan biasanya jurnal-jurnal itu berisikan simulasi dari CAD nya SolidWorks dan juga CAE nya dari Ansys,” ujar Fajar.

Anobrain melakukan presentasi dengan pihak ANSYS, Senin (13/4/2026).
Perjalanan menuju kerja sama dengan SolidWorks bermula ketika Anobrain berhasil masuk 10 besar finalis Indonesia dalam ajang AAKRUTI Innovation Competition Asia Pasifik. Prestasi tersebut menjadi pintu pembuka bagi tim untuk mendapatkan lisensi resmi SolidWorks dengan nilai perangkat lunak mencapai ratusan juta rupiah.
“Kami mendapatkan SolidWorks dikarenakan di tahun 2025 kami itu menjadi 10 besar finalis Indonesia dalam ajang AAKRUTI Innovation Competition yang mana software value nya SolidWorks itu sendiri mencapai kurang lebih 650 juta rupiah lisensi ditambah fasilitas sertifikasi sejumlah 20 sertifikasi untuk para staff untuk tim Anobrain,” ucap Fajar.
Sementara itu, kerja sama dengan ANSYS ditempuh melalui proses pengajuan student sponsorship. Tim Anobrain mengatakan bahwa kerja sama dengan ANSYS dilakukan secara internship melalui perusahaan tersebut. Kerja sama difasilitasi oleh PT CADIT Consultants Indonesia sebagai reseller resmi ANSYS Amerika di Indonesia.
“Untuk ANSYS itu sendiri kita bekerja sama peluang internship melalui perusahaan tersebut. Melalui ANSYS dengan perantara dari PT CADIT yang memang reseller nya ANSYS Amerika di Indonesia jadi untuk ANSYS itu memiliki nilai software value senilai kurang lebih 890 juta rupiah,” tambah Fajar.
Fajar menuturkan bahwa bagi Anobrain, lisensi resmi menjadi fondasi penting dalam penelitian akademik dan publikasi ilmiah. Penggunaan software ilegal memiliki banyak keterbatasan, baik dari segi fitur maupun risiko hukum.
“Pertama karena ketika kita menggunakan yang ilegal atau yang student itu mempunyai fitur-fitur yang memang tidak selengkap yang original, itu yang pertama, yang kedua ketika target kami itu mempublikasikan artikel itu harus ada license ketika tidak ada license itu nantinya kita akan diberikan denda oleh mereka,” tuturnya.

Anobrain melakukan presentasi dengan pihak SolidWorks, Sabtu (25/10/2025).
Fajar mengungkapkan bahwa Anobrain kini tengah mempersiapkan generasi terbaru mobil listrik mereka, Singaperbangsa Electric Vehicle 2 (EV-2), untuk kembali berlaga dalam Kompetisi Mobil Listrik Indonesia (KMLI).
“Nah pada saat ini Anobrain itu sedang mengembangkan Singaperbangsa Electric Vehicle 2, yang mana nantinya kita akan mempersembahkan mobil terbaru kita ini dalam kompetisi mobil listrik Indonesia,” ungkapnya.
Fajar mengatakan bahwa pengerjaan kendaraan telah memasuki tahap pengembangan steering control, kaki-kaki, dan body setelah proses pembuatan chassis selesai dilakukan.
“Sudah ada di tahap pembuatan chassis. Pembuatan chassis sudah selesai dan sekarang lagi riset komponen untuk steering nya dan komponen electrical nya,” katanya.
Harapan besar pun disematkan pada proyek kendaraan kedua tersebut. Tidak hanya untuk membawa nama Unsika di kompetisi nasional, tetapi juga memperkuat posisi Anobrain sebagai tim riset mahasiswa yang terus berkembang.
“Di tahun ini Anobrain melakukan penelitian dan pengembangan pada mobil yang kedua, yang harapannya mobil ini lebih prima dari yang pertama, dan nantinya lebih kompetitif di ajang kompetisi mobil listrik Indonesia,” harapnya.
(OZR, SAN)