Kaliaget Organic Space menggelar perayaan Hari Tani Nasional dengan mengusung tema “Menghidupkan Ekosistem Kolaborasi Merawat dan Melanjutkan Perjuangan Kaum Tani", kegiatan ini diisi dengan sejumlah rangkaian acara, mulai dari drama, diskusi, pertunjukan seni lukis, hingga tari yang bertempat di Desa Pasirawi, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, Minggu (27/9/2026).

 

Koordinator Petani Muda Karawang, komunitas yang dipayungi Kaliaget Organic Space, Ryan, mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga menjadi ruang kolektif untuk mengapresiasi petani sekaligus mempertemukan petani senior dan petani muda, komunitas, dan anak muda yang peduli terhadap isu pertanian dan lingkungan. 

 

“Bukan hanya seremonial gitu loh, di balik itu justru kemarin kita untuk mengapresiasi jelas untuk para petani. Terus yang jelas mengubah stigma petani, maaf karena (stigma yang beredar) itu kotor, tua, miskin, lusuh gitu lah. Dan dari acara kemarin tuh (menunjukkan) ini loh banyak petani-petani dari sekitar bahkan anak-anak muda yang peduli sama petani, sama lingkungan,” ungkapnya saat diwawancarai via WhatsApp, Senin (28/9/2026).

 

Ryan juga menilai acara tersebut juga menjadi ruang temu antara petani senior yang memiliki pengalaman dengan generasi muda yang membawa gagasan kreatif dan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung perkembangan sektor pertanian.

 

“Menurutku kemarin acaranya itu kayak menjembatani para petani senior yang punya pengalaman lah dengan petani-petani muda yang punya ide kreatif, digitalisasi, konten, segala macam dan disitulah jadi titik temu gitu,” lanjutnya.

 

Senada dengan Ryan, Founder Kaliaget Organic Space, Tati Krisnawaty, menjelaskan kegiatan ini turut menghadirkan ruang diskusi mengenai pertanian, yang mana dalam diskusi tersebut membahas persoalan mengenai nilai dan sejarah pertanian di Karawang yang bertujuan untuk mematahkan stigma petani sebagai profesi yang terbelakang.

 

“Ada diskusi dan cerita tentang sejarah karena sejarah itu akan dapat berulang lagi sama kayak kita mempelajari dan bisa mengevaluasi. Petani itu dianggap terbelakang, enggak modern. Kami ingin mengajak kita semua untuk melihat bahwa pertanian itu punya nilai yang sangat agung dan punya sejarah panjang,” lanjut Tati.

 

Sesi diskusi Hari Tani Nasional, Minggu (27/9/2026).

 

Hari Tani juga turut diramaikan dengan penayangan drama tentang pohon. Tati menjelaskan, drama tersebut dihadirkan sebagai bentuk kritik terhadap manusia modern yang dinilai semakin melupakan keberadaan alam. Melalui pertunjukan tersebut, masyarakat diajak untuk menanam pohon sebagai salah satu langkah untuk membantu menghadapi krisis alam.

 

“Drama tentang pohon adalah suara bahwa manusia modern itu melupakan alam kerjanya, tahu sendiri kan bagaimana pohon ditebangi hutan digundulkan alih fungsi lahan untuk perumahan, industri pohon itu enggak dianggap, (sehingga) kita enggak punya pohon lagi. Drama pohon yang kami angkat itu untuk mengajak kita semua untuk nanam pohon, karena itu akan membantu krisis iklim,” jelasnya saat diwawancarai secara langsung, Minggu (27/9/2026).

 

Sesi Tari saat acara berlangsung, Minggu (27/9/2026).

 

Tak sampai penayangan drama dan diskusi, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan pertunjukan tari yang Tati yakini sebagai bentuk penghormatan terhadap Dewi Sri sekaligus mengangkat akar kebudayaan Karawang. Dewi Sri sendiri adalah dewi padi dan lambang kesuburan yang sangat dihormati oleh masyarakat petani di Jawa, Bali, Lombok, dan Sunda. Menurut Tati, simbol-simbol dalam perayaan tersebut juga digunakan untuk mengajak masyarakat menghargai pertanian, petani, dan kebudayaan.

 

“Kita bangga menjadi orang Karawang yang memang punya garis sejarah nenek moyang yang berkebudayaan. Kalau kita baca lagi sejarah dan tarian itu akarnya adalah memuliakan Dewi Sri, di dalam tarian tadi semua punya hak yang sama. Jadi Hari Tani yang kami lakukan itu adalah simbol-simbol untuk mengajak kita semua menghargai pertanian, menghargai petani, dan menghargai kebudayaan,” jelas Tati.

 

Ryan berharap dalam momentum perayaan Hari Tani tersebut dapat menjadi jembatan bagi petani dari berbagai generasi, termasuk pemilik lahan, buruh tani, dan petani muda dalam menciptakan serta mengembangkan kolaborasi. Ryan juga menyoroti upaya regenerasi yang dinilai sangat penting untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pangan.

 

“Petani itu memang mayoritas tua, siapa lagi gitu enggak ada yang regenerasi, sedangkan pangan itu jelas nomor satu gitu kan, semoga satu per satu dari pemilik lahan harapan-harapan itu terkabul atau terealisasikan,” harapnya.

 

PAI